08. Sibuknya Izrail

“Wah, bagaimana itu si Izrail? Bagaimana dia musti mewawancarai jenasah?” kata Misdi iseng di tengah-tengah temannya yang bercerita bahwa putri seorang guru besar tewas dalam kecelakaan pesawat. Pesawat meledak. Di puing-puingnya tidak diketemukan jasad si putri.

“Terus lagi, kematiannya juga pada hari Selasa Pahing, biasanya akan diikuti kematian-kematian lainnya,” kata Misdi lagi menghubungkannya dengan sebuah mitos, Banyak yang masih percaya bahwa kematian pada Selasa Pahing akan membawa kematian lain pada orang-orang sekitarnya. Entah kebetulan atau memang berhubungan, seorang doktor meninggal tepat seminggu setelah kematian putri guru besar. Tiga hari setelah sang Doktor meninggal, istri seorang dosen meninggal dunia.

“Pasti malaikat maut divisi kampus kita sedang kerepotan menjalankan tugasnya. Menit ini di sini, menit selanjutnya di sana,” begitu kata Misdi lagi.

Izrail melirik saat mendengar Misdi mengatakan itu. “Sok sekali anak ini. Belum pernah kenal aku ya?” batin malaikat maut sambil bercokol di dalam sebuah lukisan pada dinding warung tempat Misdi berbincang-bincang dengan temannya. Tapi, jika dipikir-pikir, tugasnya memang lumayan berat akhir-akhir ini. Dia musti mencabut nyawa beberapa orang penting yang sebenarnya secara pribadi sangat baik dan halus. Setiap kali datang memo pencabutan nyawa, dia selalu mengamati dulu orang yang dimaksud. Pada saat dia mendapatkan memo untuk mencabut nyawa putri guru besar, dia memutar otak semaksimal mungkin untuk mencari cara pencabutan nyawa yang tak terlalu menyakitkan. Perempuan itu memang terkenal sangat santun. Saat itu, dia langsung menghubungi Rokib dan Atid, malaikat penjaga hati, untuk meminta bantuannya. Mereka berdua membujuk si putri untuk melakukan penerbangan udara mengunjungi suaminya yang bekerja di Papua. Rokib dan Atid membujuk si putri guru besar untuk terbang ke Sulawesi dulu mengunjungi mertuanya. Mengapa Rokib dan Atid mengarahkannya ke Sulawesi? Karena menurut buku nasib, akan ada kecelakaan pesawat jurusan Sulawesi. Di atas pesawat itulah dia pertemukan si putri dengan calon jenasah yang lain. Akhirnya, terjadilah ledakan di pesawat itu. Si putri terlibat dalam ledakan itu tidak terlalu mendapatkan rasa sakit saat dia masuk ke alam kematian. Izrail butuh waktu seminggu untuk mengatur kematian si putri, mulai ketika dia menerima memo hingga si putri meninggal dunia. Hasilnya: kematian yang tak terlalu menyakitkan untuk seorang perempuan yang halus budinya.

Terus lagi, saat seorang istri dosen meninggal, Izrail juga tidak hanya mencabut nyawanya begitu saja. Membutuhkan sejumlah upaya untuk mengeluarkan nyawa si ibu dari raganya. Begitu dia menerima memo pencabutan nyawa, dia langsung mengamati calon jenasah. Lagi-lagi dia mendapati istri dosen itu seorang yang selalu berbicara sopan bahkan kepada tukang sayur di ujung jalan kompleks perumahan dosen, ataupun kepada pembantunya yang sangat lugu dan sering melakukan kesalahan. Akhirnya, setelah melihat catatan kesehatannya, dia tahu bahwa si istri menderita penyakit jantung. Akhirnya, dia buat si istri mendapatkan kesenangan selama tiga hari. Dia mendapat kabar dari putrinya bahwa mereka akan mengusahakan agar si ibu naik haji. Si istri dosen sangat senang hingga dua hari kemudian tiba-tiba diberi kabar bahwa anaknya mendapatkan kecelakaan. Akhirnya, si ibu langsung terkena serangan jantung dan meninggal dunia.

Izrail tetap memperhatikan Misdi berbincang-bincang dengan teman-temannya. Kalau dibilang sibuk, memang dia sangat sibuk. Mencabut nyawa itu bukan pekerjaan gampang seperti memangkas rumput lapangan dengan pisau baling-baling. Mencabut nyawa butuh strategi dan tak tik, terutama saat yang dicabut nyawanya adalah orang yang baik. Izrail yang satu ini kenal secara langsung dengan Izrail yang mencabut nyawa Rasulullah. Pencabutan nyawa Rasulullah adalah prestasi sebesar para Izrail. Itu karena pencabutan ini terkenal sebagai pencabutan paling tidak sakit, meskipun katanya serasa tiga ratus kali bacokan pedang. Memang, manusia tidak akan pernah tahu rahasia pencabutan nyawa. Tak heran jika Misdi begitu meremehkan pencabutan nyawa dan terkesan kurang mempercayai adanya Izrail.

Malaikat maut mendapat dua memo pencabutan nyawa. Yang pertama adalah pencabutan nyawa seorang dosen di Fakultas Sastra. Beliau ini adalah seorang dosen yang sangat tenang dan disukai mahasiswanya. Sejak dua bulan kemarin sudah tergolek di rumah sakit karena gangguan pernafasan. Untung saja, dia tidak tergolek kesakitan. Kini, dia tidak perlu berepot-repot untuk mencabut nyawanya. Malam itu, malaikat maut langsung mendatangi rumah sakit tempat si dosen dirawat dan membangunkannya tengah malam. Malam itu, dia beri si dosen lamunan-lamunan indah tentang anak-anaknya yang beberapa diantaranya menempuh kuliah di luar negeri. Dia merasa didatangi putri-putrinya itu. Dalam kebahagiaannya itu, malaikat maut melolosi nyawa dari tubuhnya. Jadilah, pak dosen meninggal dunia dalam keadaan tersenyum.

Sehari setelah kematian di dosen sastra, dalam perbincangan di warung yang sama Misdi berkata, “Wah, memang gila-gilaan nih sang malaikat maut. Siapa lagi ya yang ada di daftarnya setelah pak dosen?”

Setelah berbicara seperti itu, Misdi meninggalkan warung tersebut untuk kembali ke suatu tempat. Malaikat maut baru saja masuk warung ketika Misdi mau keluar. Dia tadi sempat mendengar kata-kata Misdi. Malaikat maut hanya geleng-geleng kepala melihat anak sesombong itu. Tapi, dia harus obyektif, tidak boleh membenci manusia. Sambil masuk di dalam lukisan, dia buka lagi memo yang ada. Di kertas itu, tertulis Misdi 24 tahun. “Tak salah lagi, pasti ini Misdi yang itu,” batin malaikat. Bagaimanapun, dia tidak langsung berangkat, dia ingin memberi si Misdi itu sedikit kesempatan sebelum nyawanya benar-benar melayang.

Kemudian, pada siang harinya ternyata Misdi mendapatkan kecelakaan. Dia mendapatkan luka-luka yang lumayan parah. Dia dibawa ke rumah sakit. Malaikat maut mengikuti saat kursi rodanya dibawa masuk ke ICU. Dia sudah bersiap menarik saja rohnya ketika dia teringat sesuatu. Dia teringat bagaimana Misdi selalu mempermainkan dirit nyawa Misdi saat itu juga, namun dia memilih untuk membiarkan Misdi merasakan dulu. Merasakan sengatan-sengatan maut yang belum lengkap.

Saudara-saudara, aku tak tahu kapan malaikat maut akan benar-benar mengambil nyawa Misdi. Yang jelas dia masih belum mengambilnya sampai saat ini. Ingat, itu bukan karena dia menyukai Misdi. Tapi, itu karena dia ingin melihat Misdi merasakan derita dan menyadari bahwa tugas mencabut nyawa itu bukan tugas gampang yang layak diremehkan . . .

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. sastra yg nyerempet ghaib gini, i dunno. secara literal sih aku suka. cuma scr etika (dan ilmu), aku ragu: apa izrail mang byk? (para izrail?), izrail mengulur dan berkuasa penuh dlm proses n bentuk pencabutan nyawa?
    mungkin sebaiknya ada maraji’/rujukan agamis yg pas, biar ga bikin orang yang belom paham mangkin ngglambyar?
    macam film-film horor (misal: bangku kosong, dkk) yang salah kaprah mendefinisikan adanya arwah gentayangan, sedangkan sebenernya arwah/roh ada dunianya sendiri, roh orang baik dimana, roh orang jahat dimana.
    kalopun ada yg nampakin diri, gangguin, itu hanya jin yang nyaru jadi si arwah.
    ini cuma contoh perlunya maraji’ dalam bercerita siiy. wallahu a’lam.

  2. terima kasih mbak wulan…

    ada dua kalimat di situ yang tidak kalah pentingnya buat saya:

    “Memang, manusia tidak akan pernah tahu rahasia pencabutan nyawa. Tak heran jika Misdi begitu meremehkan pencabutan nyawa dan terkesan kurang mempercayai adanya Izrail.”

    dengan disclaimer semacam itu, saya berharap kewenangan izrail ini tidak dijadikan nilai mutlak yang harus dikejar faktanya. mungkin saya mengharapkan yang lain :) … tapi, tidak ada yang bisa mengatur seperti apa seorang pembaca akan menafsirkan tulisan saya. dan untuk itu saya berterima kasih sekali sudah menyampaikan pandangan mbak wulan. saya jadi tahu tafsiran salah satu pembaca. :)


Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.