05. “Jangan Bu Yah,” kata Ibu Kos
Aku lupa tepatnya, kapan aku mulai mendengar tentang Bu Yah, seorang janda usia enampuluhan. Bu yah menjalani hidup sehari-hari sebagai seorang melijo, penjual sayur-mayur, lauk-pauk, serta bumbu-bumbuan kecil-kecilan. Tempat mangkalnya di kawasan kos-kosan dan pemukiman padat tempatku tinggal. Bu Yah mencoba peruntungannya. Ah, salah, sepertinya yang benar adalah peruntungan mencoba mendekati Bu Yah. Oh ya, Bu Yah berjualan di depan sebuah warnet dengan bermodalkan sebuah bangku ramping dan panjang, serta gerobak yang tak beratap. Hanya memiliki empat tinggal di keempat sudut untuk menambatkan ujung-ujung tali yang dia pakai tempat menjemur rentengan bumbu-bumbu masak.
Aku tidak tahu pasti tentang Bu Yah, begitu juga dengan teman-temanku sesama anak kos. Kebanyakan temanku yang memasak makanannya sendiri tidak belanja sayur-mayur atau lauk-pauk dan semacamnya di Bu Yah. Mereka beli dari sebuah warung yang tempatnya agak jauh. Konon, Bu Yah itu mahal, kata teman-temanku.
Aku mengenal Bu Yah, murni dari ibu kosku. “Nak Lintang, kalau sampean mau masak atau belanja sayur-mayur dan lauk-pauk, usahakan jangan di BU Yah depat warnet itu,” kata ibu Kosku. “Dia jualannya selalu lebih mahal.” Aku manggut-manggut saat mendengarnya. Saat itu, aku masih semester satu, dan ibu kosku mengira aku juga seperti kebanyakan anak kos dari Kediri lainnya yang suka dan memang pintar memasak. Sayangnya, aku tidak terpikir untuk memasak. Kalaupun aku sampai ingin masak sendiri, pastilah aku hanya akan memasak nasi. Dan lauknya bisa beli di warung.
Aku pun tidak sempat berhubungan secara langsung dengan Bu Yah. Meski demikian, aku sering sekali mendengar tentang Bu yah, tentu saja dari ibu kosku. “Bu Yah itu aneh,” kata beliau suatu kali saat aku menunggu kedatangan seorang kawan di teras rumah. “Dia itu jualan, tapi ada saja alasannya kalau ada orang yang sebelumnya tak pernah beli lalu datang untuk beli.
Lalu ibu kosku ceritakan tentang suatu kali ketika seorang anak kos di tempatku ini belanja. Anak kos itu mahasiswa baru. Kira-kira, seperti ini ceritanya:
“Bu, beli wortel,” kata si anak kos.
“Wah, sudah habis, Mas,” kata Bu Yah.
“Itu, Bu, masih ada, maaf,” kata si anak kos sambil menunjuk sebungkus wortel segar dari Pujon.
“Ini sudah dipesan orang, Mas,” kata Bu Yah.
Begitulah ibu kosku bercerita dan kemudian beliau mengakhiri ceritanya dengan, “Padahal, dik Lintang, dagangan itu tidak terlalu ramai dan siang itu wortelnya masih ada. Sudah umum diketahui warga sini kalau agak sedikit siang biasanya Bu Yah itu menjajakan dagangannya keliling kampung, biar habis.
Aku bertanya-tanya, orang macam apa sebenarnya Bu Yah ini? Apa yang membuatnya sampai begitu? Besar sekali hasratku untuk bisa mengetahui sendiri. Seperti apa wajahnya saat mengatakan hal-hal itu kepada orang-orang yang membelinya. Bagaimanapun, kesibukanku yang amat ketat membuatku tak mungkin mengamatinya dengan jelas. Aku sempat lupa di tengah-tengah kesibukan awal kuliah.
Saat aku sudah semester delapan dan menerjemah buku untuk sebuah penerbit jarak jauh, aku akhirnya mendapatkan kesempatan itu. Setidaknya, dua kali dalam seminggu aku pergi ke warnet. Pada salah satu kunjunganku ke warnet itulah, aku teringat lagi dengan reputasi Bu Yah. Aku jadi sering melihat Bu Yah.
Aku mulai menyempatkan diri berlama-lama menyaksikannya. Aku mencari kesempatan untuk memandangnya. Pada awalnya, aku seringkali memakai sandal jepit untuk ke warnet. Di warnet ini, tempatnya berkarpet. Jadi, pelanggan harus menaruh sandalnya di boks-boks sarang lebak terbuka. Seorang kawan menceritakan bahwa dia kehilangan sandal gunungnya yang baru dua minggu dia pakai, pada saat ngenet di situ. Maka, aku memakai sandal jepit juga. Namun, saat aku mulai terpikir untuk mengamati Bu Yah, aku memutuskan untuk memakai sandal gunungku. Tapi, aku menaruh kedua sandalku secara terpisah dengan harapan sedikit menyulitkan si maling. Pada saat pulang, aku mengambil sandal gunung dan memakainya di luar pada sebuah kursi khusus untuk pelanggan warnet yang antri menunggu booth kosong. Sambil berlama-lama menalikan sandal gunungku, aku mengamati gerobak tanpa atap milik Bu Yah. Kulihat daging-daging segar yang sudah tercuci bersih, kentang yang sudah terkupas, bumbu-bumbu masak yang sudah terjemur rapi pada tali yang menghubungkan keempat tiang di gerobak Bu Yah dan juga seorang lelaki yang sedang membersihkan rebung.
Aku tidak bisa melihat wajah Bu Yah secara langsung. Hanya kulihat kondenya yang sudah disergap helai-helai putih seperti bunga jambu air. Memang, tak seorang pun membeli dagangannya.
Aku segera pulang begitu kedua sandal gunungku terikat rapi. Dan di rumah aku bertanya kepada ibu kosku, begitu ada kesempatan.
“Saya tadi lihat sendiri, Bu, yang namanya Bu Yah itu,” kataku. Ibu kos lalu menanyakan apakah aku bisa melihat wajahnya. “Tidak, Bu,”
“Kapan-kapan lagi lihat wajahnya, Dik,” wanti-wantinya. “Pasti selalu cemberut. Kebanyakan orang sini tidak suka karna wajahnya yang cemberut itu. Mereka lebih suka ke warung Bu Yun. Meski agak jauh, warung itu murah dan murah senyum.
Aku mengabaikan hal itu selama beberapa hari karena tertekan skripsiku yang sudah lumayan merepotkan dalam segi bahasa. Saat itu, aku mengerjakan karya sastra yang berhubungan dengan sejarah Irlandia. Aku mengenal kata “boycott” yang diambil dari nama seorang pemimpin gerakan “boikot” di Irlandia. Aku jadi teringat Bu Yah lagi.
Beberapa hari selanjutnya, aku iseng bertanya ke seorang anak kos tertua di tempat kami, namanya Wirawan, soal Bu Yah. Sebenarnya, ini usaha serampangan. Tapi, mengingat dia mahasiswa tertua dan selalu memasak tiap hari, meski hanya telor dan nasi, atau kari “cakar ayam,” aku jadi memiliki peluang tahu lebih banyak soal Bu Yah. Menurutnya, yang tak pernah belanja di Bu Yah karena provokasi ibu kos, Bu Yah dulunya laku, sebelum ketahuan bahwa dia memakai pesugihan untuk menarik pelanggan. Hm, aku jadi menemukan fakta baru.
Beberapa kali aku mengamati BU Yah sambil mengikatkan sandal gunungku. Aku hanya sempat melihat sekilas saja wajahnya selama itu. Aku jadi terpikir untuk membeli sesuatu padanya hanya untuk mencari tahu ekspresinya. Aku mulai merasa dengan bantuan kesadaran dan sedikit pengetahuan tentang pesughan, sepertinya aku mulai terkena mantra pesugihannya. Dalam keadaan serba kekurangan seperti ini, aku ingin membeli bahan-bahan di tempatnya dan memasaknya sendiri. Ah, apa benar aku mulai terkena? Kapankah aku mulai terkena mantranya? Apa pada saat aku melihat beliau mengupas kentang, atau pada saat dia menghilangkan sisik ikan? Menurutku, aku ingin belanja karena aku memang ingin melihat wajahnya. Untuk sementara waktu, aku cukup puas dengan hanya melihatnya repot dengan barang-barang dagangannya.
Di rumah, aku menyempatkan diri bertanya ke seorang temanku, aku mengajaknya memasak murah-murahan, kari cakar ayam. Saat aku mengatakan ingin belanja di Bu Yah, aku mendapat cerita.
“Kata Bu Kos, Bu Yah itu pelit dan mahal.” Lalu, setelahnya aku bertanya lebih jauh, aku baru tahu bahwa anak ibu kos suatu saat pernah belanja wortel dan buncis. Karena melijo lainnya tidak ada yang berjualan. Saat ingin membeli wortel dan buncis dengan harga seribu rupiah, Bu Yah langsung bilang, “Tidak boleh, Mbak, sekarang apa-apa mahal. Kalau mau beli buncis atau wortel masing-masing seribu tidak apa-apa. Akhirnya, anak ibu kos pun menuruti apa kata Bu Yah.
Agak siang, ketika aku hendak berangkat ke kampus, aku ketemu lagi dengan Bu Yah. Kali ini dia menjajakan sayurannya keliling, “Sayur, daging, ikan, Mas.” Katanya dengan senyum malu-malu. Aku yang sudah nyaris terlambat hanya tersenyumdan berbasa-basi. Senyumnya saat menawarkan dan mendorong gerobak, dan mulutnya yang terkatup rapat benar-benar tak menunjukkan kesombongan.
Sementara, suatu sore saat membeli rokok di warung Mbak Yah, aku ditanya.
“Mas ini kos di rumahnya Bu Yanto, ya?”
“Iya, bu.”
“Ini, mas, saya mau minta tolong titip ini ke Bu Yanto, maaf saya kerepotan melayani pembeli. Lalu dia serahkan bungkusan seperti bungkusan nasi tapi sangat ringan dan lunak. Aku tak ingin tahu apa isinya. Namun saat aku berjalan, tercium aroma bunga ziarah di sana. Aku langsung kaget dan segera menyerahkannya ke Bu Yanto yang segera menerimanya dan segera masuk kamar untuk menelpon.
“Yati mana?… Ya sudah, titip pesan saja… Lain kali jangan menitipkan barang itu ke orang lain… Apa kamu mau warungmu gulung tikar?”
No Comments Yet »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.