04. Diberikannya Air Kehidupan, Lebih dari Setetes

“Namaku Kyai Mukhid,” begitu dia pertama kali datang dan berkata dengan suaranya yang sangat berat dan parau. Para warga di kamp pengungsian itu terpesona dengan turban putih yang begitu kontras dengan kaus oblong yang dipakainya. Mereka mengerumuninya dan melihat jenggot dan kumisnya yang hitam legam dan kaus oblong warna hijau yang sebenarnya adalah kaus partai yang sudah luntur sablonnya. Kyai Mukhid tampak begitu menakutkan saat menatap dengan matanya yang cekung. Begitu juga saat dia berbicara dengan mulut yang nyaris selalu tersembunyi di balik rimbunnya jenggot dan kumis misteriusnya.

Tak bisa tidak, para pengungsi seperti menemukan harapan pada sosok Kyai Mukhid. Mereka menceritakan betapa sebuah perusahaan pengeboran minyak menancapkan pipa-pipa raksasa dengan mesin raksasa dan menimbulkan getaran-getaran gempa yang membuat mereka gentar untuk mendekati kawasan itu. Suatu kali, pipa yang sedang ditancapkan mesin-mesin raksasa itu tidak bisa menghujam lebih dalam. Maka, sang operator memutuskan untuk melepasnya lagi. Dan ketika pipa itu dilepas, lumpur beruap memancar keluar. Pertama lumpur itu hanya meleler-leler dari lobang sebesar sumur. Namun, kemudian lumpur semakin deras hingga seperti air mancur.

Tentu saja mereka juga menceritakan kepada Kyai Mukhid bahwa setelah itu lumpur menggenangi seluruh lahan persawahan mereka, dan kemudian meleler ke jalan-jalan, dan terakhir memasuki pintu rumah mereka seperti tamu yang tak pernah mau disuruh pulang. Saat itulah mereka mulai tinggal di tempat pengungsian yang disediakan para pegawai kabupaten. Kyai Mukhid mendengarkan dengan manggut-manggut dan sesekali memejamkan matanya yang setajam mata bor itu.

“Kyai, mari masuk dulu ke bilik kami agar Pak Kyai tidak kepanasan,” sela seseorang sebelum Kyai Mukhid sempat mengucapkan sepatah kata pun.

Kyai Mukhid pun menuruti ajakan itu dan mengikuti saja kemana orang-orang itu mengajaknya. Dia memasuki salah satu bilik pengungsian yang penuh sesak dengan barang itu. Ada televisi, kasur yang digulung, baju yang dibuntel kain selimut garis-garis, dan sejumlah mainan anak-anak yang bertebaran di lantai. Bilik pengungsian itu tidak memiliki pintu depan. Si pemilik bilik mengambil sebuah sajadah di satu sudut ruangan dan membentangkannya, untuk Kyai Mukhid. Kyai Mukhid langsung duduk bersila bersama beberapa orang yang mendapatkan tempat untuk duduk di dalam bilik tersebut. Belasan orang lainnya yang tetap takjub melihat sosok Kyai Mukhid yang seperti keluar dari film-film India tersebut.

“Sekarang, separah apakah perkembangan lumpur kalian tersebut?” tanya Kyai Mukhid.

“Lumpur itu pertama kali memancar tiga bulan yang lalu, Kyai,” jawab salah seorang yang duduk di dalam bilik tersebut. “Sekarang bukan hanya sawah, tapi desa kami dan dua desa tetangga sudah menjadi lautan lumpur, hitam, panas, mengepul-ngepul.”

“Lautan? Danau? Atau sungai yang besar?” tanya Kyai Mukhid, bukan kepada orang-orang itu. Gelagatnya yang bertanya-tanya sendiri sambil memejamkan mata. Kepalanya teleng ke kanan seperti bertanya kepada malaikat penjaga yang sudah dia akrabi.

“Kalian mendapatkan rahmah, Saudara-saudara,” kata Kyai Mukhid.

Semua orang yang ada di sana saling memandang serba tak mengerti. Seseorang mengambil nafas berat di sana, kemudian meludah. Seseorang mulai meninggalkan kerumunan itu sambil merogoh sakunya untuk mengambil rokok dan korek.

“Memang, Kyai,” kata seorang yang duduk di sekitar Kyai Mukhid di dalam bilik tersebut, senyumnya mencong. “Memang, kami jadi kenal yang namanya Kyai terkenal Aa’ Rusdi yang malam Jumat kemarin berceramah, kami juga jadi kenal penyanyi dangdut Lita Nurlita yang menghibur malam Minggu lalu, kami juga jadi pernah bersalaman dengan Pak Presiden yang datang untuk memarahi perusahaan minyak dan menguatkan semangat kami agar tetap sabar. Kalau yang dimaksud rahmah adalah yang seperti itu, memang benar adanya Pak Kyai.”

Kyai Mukhid juga mendengus. Tak jelas dia juga tersenyum atau tidak. Terlalu sulit menyimpulkan hal itu karena jenggot dan kumisnya yang lebat itu.

“Pasti kalian kenal Nabi Khaidir,” kata Kyai Mukhid, sambil membenahi letak turbannya. Sementara itu, orang-orang tampak mengingat-ingat. Beberapa orang manggut-manggut tanda mengerti. Namun, tampaknya mereka tidak bisa menemukan hubungan antara banjir lumpur dengan Nabi Khaidir, hingga Kyai Mukhid melanjutkan, “Kalian adalah orang-orang yang mendapat kehormatan untuk memberikan tempat singgah bagi Nabi Khaidir. Kalian merelakan tanah kalian menjadi perairan. Peraian adalah tempat kesukaan Nabi Khaidir.”

Para pengungsi yang berkerumun tampak semakin serius mendengarkan Kyai Mukhid. Beberapa wanita yang tadi berlalu lalang, kini mendekat untuk turut mendengarkan. Anak-anak kecil jongkok dengan kaki kotor tak bersandal dan pipi yang menghitam karena ingus bercampur debu.

“Nabi Khaidir hidup hingga akhir jaman dan Beliau punya banyak waktu untuk mengunjungi seluruh perairan yang ada di muka bumi. Dan di setiap perairan itu, dia teteskan setitik Air Kehidupan, sekedar berbagi hikmah,” kata Kyai Mukhid. “Dan yang kebetulan melihatnya meneteskan air itu akan turut mendapatkan kemuliaan.”

“Semoga belum terlambat, Kyai,” kata seorang di samping Kyai Mukhid. “Kabarnya tanah kami itu akan dibeli dan kami akan diberi uang pengganti untuk membangun tempat tinggal baru beserta membeli lahan persawahan baru. Tapi… itu juga masih baru kabar, Kyai.”

“Tunggulah sebentar, tunggulah hingga kalian melihat Nabi Khaidir meneteskan Air Kehidupan itu.”

“Ah, andaikan para pengusaha pintar itu mau mendengarkan alasan semacam itu, Kyai,” kata si pengungsi diakhiri helaan nafas panjang.

“Cobalah dulu,” kata Kyai Mukhid. “Sementara itu, saya akan mencoba sejauh yang saya mampu.”

Begitu Kyai Mukhid menyelesaikan kata-katanya, salah seorang perempuan datang membawa loyang yang di atasnya terdapat es teh dalam gelas sudah berembun. “Silakan, Pak Kyai,” kata si ibu.

“Terima kasih,” kata Kyai Mukhid sambil merogoh ke dalam tas yang terlingkar di pinggangnya. “Saya sudah bawa minum sendiri. Lebih baik teh itu untuk anak-anak Kalian saja, mereka lebih membutuhkan daripada saya.” Kemudian Kyai Mukhid mengeluarkan botol kaca seperti bekas botol madu. Isinya cuma air putih yang tampak agak kusam, mungkin karena botolnya, mungkin juga karena airnya yang sudah lama. Dia meneguknya sedikit sekali, lalu memasukkannya lagi ke dalam tasnya.

* * *

Sehari setelah kedatangan Kyai Mukhid, para pengungsi itu mulai sering meluangkan waktunya di tepi danau lumpur setiap sore menjelang malam, sepulang kerja. Mereka memanjat tanggul lumpur yang kini sudah setinggi lebih dari sepuluh meter. Dari kejauhan, iring-iringan orang-orang dewasa dan sejumlah anak-anak itu terlihat seperti eksodus mencari tanah terjanji. Sesaat, truk-truk yang membawa sirtu untuk meninggikan tanggul tidak bisa lewat karena para pengungsi memenuhi bagian atas tanggul, mereka sungguh sulit diatur.

Beberapa waktu kemudian, para pengungsi yang menonton lumpur itu lebih bisa mengatur posisi mereka. Mereka mengerti bagaimana mereka harus menghindari ketika truk pembawa sirtu datang. Bagaimanapun, mereka mesti rela menghirup debu yang bertebaran ketika truk-truk pembawa sirtu itu lewat. Pada awalnya mereka menutup hidung karena bau lumpur yang seperti limbah pabrik bercampur belerang, tapi tak lama kemudian mereka sudah bisa mengabaikan bau itu.

Sebenarnya, tidak ada yang benar-benar menjadi agenda mereka. Mereka hanya bersantai-santai berbincang-bincang di keremangan cahaya senja. Di arah timur sana hari terasa lebih cepat gelap karena asap yang mengepul jauh dari pusat semburan lumpur bercampur dengan asap-asap pabrik yang mulai membeku awang-awang.

Saat maghrib datang, mereka mengadakan sholat berjamaah. Karena terlalu jauh untuk turun dari gundukan tanggul yang tinggi itu, mereka bertayamum dengan sirtu yang ada di sekitar mereka. Imamnya adalah Kyai Mukhid yang ternyata masih ada di tengah-tengah mereka. Biasanya, antara maghrib sampai isya, truk-truk pengangkut sirtu peninggi tanggul itu berhenti berputar-putar di atas tanggul. Maka, mereka bisa sholat maghrib berjamaah tanpa gangguan dan berbincang-bincang dengan Kyai Mukhid. Dari jauh, mungkin akan tampak Kyai Mukhid berceramah kepada para pengungsi itu. Namun, jika kalian ikut di dalamnya, kalian akan lihat Kyai Mukhid sebenarnya hanya bertanya-jawab dengan mereka soal Nabi Khaidir, danau lumpur, dan rencana-rencana perusahaan pengeboran untuk membeli tanah mereka tersebut.

“Kalian sudah mendekati rahmah,” kata Kyai Mukhid saat seorang pengungsi membayangkan betapa senangnya mendapatkan dana santunan berjuta-juta rupiah untuk membangun rumah, pindah rumah dan berganti usaha. “Kalian tunggu saja dulu kemunculan Nabi Khaidir. Beri waktu kepada dia untuk datang. Setidaknya dua tiga bulan lagi.”

“Lalu apa yang musti kami lakukan, Kyai?” tanya orang tersebut.

“Sementara itu, kalian usahakan agar tetap mendapat santunan tanpa harus kehilangan tanah kalian ini.”

Mereka semua manggut-manggut.

“Kalian ingat rumah-rumah yang kalian bangun dengan keringat kalian sendiri?”

“Tapi rumah-rumah itu sudah terkubur, Kyai.”

“Kalian ingat sawah-sawah kalian yang telah memberi banyak kebahagiaan, yang bisa membuat kalian menyekolahkan anak hingga lulus sekolah, yang membuat kalian selalu bangun pagi dan pulang sore hari?”

“Tapi sawah-sawah itu sudah terkubur dan mustahil bisa ditanami. Lumpur ini beracun, Kyai.”

“Kalian ingat kuburan bapak-ibu, kakek-nenek, dan buyut-buyut Kalian?”

“Tapi kubur-kubur itu sudah terkubur, Kyai.”

“Kalian tidak akan bisa berziarah ke tempat mereka lagi, kalau kalian sudah melepaskan desa ini.”

“Tapi, Kyai, meskipun tidak kami jual, tetap saja kami telah kehilangan nisan-nisan mereka, kami tak tahu lagi dimana letak kuburan itu, Kyai.”

“Bayangkan, kalau kalian jual kepada mereka dan kelak semburan lumpur itu bisa dihentikan dan mereka membangun sesuatu sesuka mereka, misalkan saja pabrik, perumahan, tempat hiburan, apa kalian tahan melihatnya?”

“Maksud Kyai?”

“Apa kalian kuat menjalani hidup tanpa punya kuburan orang tua untuk diziarahi? Apa mungkin kalian meminta ijin si pemilik tanah di masa depan untuk menggali kuburan orang tua kalian yang terpedam lebih dari lima meter di dalam tanah dan kemudian memindah tulang belulah orang tua kalian?”

Mereka tercengang.

“Jika tanah ini masih punya kalian, kalian bisa dengan mudah memasang nisan-nisan baru di atas tanah dimana kira-kira kuburan orang tua kalian berada, dan kalian bisa berziarah setiap lebaran.”

Mereka tercengang dan tenggelam bersama kepala mereka yang tertunduk dalam-dalam. Sungguh tak ada yang bisa mereka lakukan. “Lalu apa yang musti kami lakukan?”

“Jangan mau tanah kalian dibeli orang-orang itu,” kata Kyai Mukhid. “Cari dukungan siapa saja yang memungkinkan. Minta saja sewa dari mereka setiap bulannya. Jika tanah kalian dibeli, harga berapapun tidak akan cukup untuk membeli tempat tinggal yang sebanding dengan rumah kalian. Sementara itu, kalian mencoba mencari pekerjaan sebisa kalian. Tunggulah, tidak akan ada sesuatu yang abadi, tunggulah sampai lumpur itu berhenti menyembur. Meski itu berarti bahwa hanya anak kalian saja yang nantinya bisa kembali meninggali tanah kalian itu. Sementara itu, jangan lupa sering-sering kemari, menunggu Nabi Khaidir yang bisa datang sewaktu-waktu. Dia selalu tertarik dengan kerumunan orang-orang yang berzikir. Aku bisa berjanji, jika kalian bisa bertemu dengan Nabi Khaidir dan mengambil hikmah darinya, kalian pasti akan lebih mulia, kalian tak akan dibodohi siapapun.”

“Terima kasih, Kyai,” kata seorang pengungsi. “Tolong juga bimbing kami selama mengupayakan hal itu.”

“Pasti!”

* * *

Tak lama setelah itu, beberapa warga mengungkapkan gagasan Kyai Mukhid tersebut kepada banyak orang. Organisasi-organisasi independen mendukung mereka, sejumlah pejabat setempat mendukung mereka, pemerintah pun mendukung mereka. Tak ada yang tahu, mengapa segalanya bisa semudah itu. Bisa saja segalanya begitu mudah, seperti halnya bisa saja segalanya begitu sulit. Hingga akhirnya dengan segala perundingan yang alot, pihak perusahaan pengeboran minyak terpaksa menyetujui permintaan warga agar tanahnya hanya disewa itu.

Pada malam sebelum penandatanganan perjanjian perihal penyewaan tanah milik para petani itu, para pengungsi mengadakan tahlil dan zikir bersama di kawasan tanggul lumpur. Tentu saja, Kyai Mukhid tetap berada di tengah-tengah mereka. Kali ini bukan beliau yang memimpin pertemuan. Seorang Kyai Kondang setempat memimpin acara tersebut. Pertemuan itu begitu ramai dan orang-orang datang berdesakan.

Ketika acara usai orang-orang bersiap-siap pulang dan berdesak-desakan, tak terkecuali Kyai Mukhid. Dia terdorong-dorong para peserta zikir yang lain hingga dia tersudut ke dekat truk-truk pembawa sirtu. Sebuah dorongan yang terlalu keras membuat dia menabrak bemper truk dan terdengarlah bunyi kemeretak dari tas pinggangnya. Dia tahu, itu adalah tempat botol airnya. Botol airnya retak.

Kyai Mukhid segera minta tolong kepada para pengungsi untuk mencarikan botol pengganti. Akhirnya, dia mendapatkan botol air mineral yang sudah kosong. Dia segera memindahkan air di dalam botol kacanya yang retak itu ke dalam botol air mineral. Untung botol kacanya belum benar-benar pecah. Di botol kaca tersebut masih tersisa sedikit air. Botol air mineral yang kecil itu tidak bisa menampung seluruh isi botol kacanya. Dia segera meneguk sebagian air yang masih tersisa di botol kacanya. Masih ada sedikit lagi air di sana… Dia segera lemparkan botol itu ke danau lumpur.

“Sudah kuberikan, lebih dari setetes,” katanya kepada seorang pengungsi yang ada di dekatnya.

“Maksud Kyai?” kata si pengungsi bertanya-tanya. Dia segera menoleh ke danau lumpur yang gelap. Tak ada apa-apa. Kemudian dia menoleh lagi ke Kyai Mukhid: dia sudah tidak di sana.

Dia sudah memberikannya, lebih dari setetes!

2 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. ah…trnyata itu cerpennya smpyn to?! aq pertama kali baca di escaeva bertaon2 yg lalu. komenku pertama kali sih…pasti itu buatan orang yang sedang teringat kampung halamannya. eh, ba’e beneran.

  2. oooh..kyai mukhid..namanya persis guru agama ku dulu waktu smp. beneran loh! Di smp 2 pasuruan.namanya pak Mukhid. Masih ada gak orangya ya? Orangnya tuh, dulu kalo ngasih ujian, kita gak perlu belajar. Soalnya kebanyakan soal2 nya adalah opini kita, atau pandangan kita. Gak ada tuh yang namanya apal2 an…


Leave a comment

XHTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.