03. Haji
(dipersembahkan kepada Haji Deddy Mizwar)
“Pamanmu jadi mendaftar naik haji, Hib,” kata ibu kemarin pagi, ketika Sohib menelpon ibunya. Siapa saja akan menganggap kalimat itu biasa. Tapi bagi Sohib, kalimat itu tak akan bisa begitu saja hilang dari pikirannya. Terbukti, sampai malam ini telinga Sohib masih tetap dihantui ucapan itu.
Bertahun lalu, ibu dan bapaknya sudah nyaris naik haji. Mereka sudah punya cadangan sepetak tanah yang sudah mereka siapkan untuk dijual. Begitu terjual, kata bapaknya, bapak dan ibu akan segera mendaftar naik haji. Selain tanah itu, bapak Sohib punya sepetak tanah persawahan yang rutin mereka tanami padi, jagung, cabe dan sebagainya secara bergantian. Dengan keuntungan dari persawahan kecil inilah mereka bisa membeli tanah yang kelak, menurut rencana, akan mereka jual untuk naik haji.
Tapi, ternyata hidup berjalan tidak dengan rencana bapak Sohib. Tanah sepetak itu berhasil terjual, tetapi tidak untuk mendaftar naik haji. Tanah itu dijual untuk biaya pengobatan bapak Sohib yang baru kemudian terdeteksi menderita kelainan fungsi ginjal. Beliau harus dikamarkan selama berbulan-bulan di Rumah Sakit Umum dan terpaksa harus menjalani cuci darah berpuluh-puluh kali. Maka, tanah yang sepetak itupun harus dijual untuk menambal biaya pengobatan.
Bahkan, setelah habis uang dari penjualan tanah itu, tanah persawahan itu pun harus dipindahtangankan ketika musim panen jagung sudah dekat, ketika sawah begitu kering dan butir-butir jagung kemerahan sudah terlihat dari kulit jagung yang sudah separuh dibuka, ketika persawahan sudah kering. Tidak, tidak seluruh tanah persawahan itu dijual. Ayahnya meminta agar disisakan seperempat dari tanah itu, untuk bekal hidup sehari-hari.
Ternyata, permintaan itu adalah wasiat terakhir bapak Sohib. Cuci darah yang sudah puluhan kali itu tidak bisa menyembuhkan: bapak Sohib meninggal. Bapak Sohib meninggal dengan membawa pergi tanah yang sudah disiapkannya untuk naik haji. Maka, diantara himpitan kesedihan ibunya, Sohib tahu bahwa ibunya masih memendam kekecewaan karena tidak berkesempatan bertawaf keliling Kabah, berziarah ke makam Rasulullah, mencium Hajar Aswat, dan sholat di Makom Ibrahim. Untungnya, Kyai Hikayat sempat berpesan kepada keluarga yang ditinggalkan, “Bapak kalian ini telah mengatakan kepada saya tentang niatnya naik haji dengan menjual sepetak tanahnya. Jika ternyata tanah itu terjual untuk pengobatannya tapi dia tetap dipanggil Gusti Allah, maka, insya allah, bapak kalian sudah mendapat kemuliaan seorang haji, meskipun tidak pernah benar-benar berangkat ke Mekkah.”
Ucapan Kyai Hikayat itulah yang membuat emak bertahan ketika ditinggal bapak Sohib, dan juga ditinggal cita-citanya naik haji. Namun, sesekali keinginan untuk naik haji itu tetap saja muncul, terutama jika mendengar ada saudara yang berkesempatan naik haji atau ketika mengunjungi orang yang baru pulang haji. Sepertinya, bekas-bekas cita-cita itu kembali menguat di pikiran ibu Sohib. Padahal, kini, jangankan berangkat haji, membiayai hidup sehari-hari saja sudah begitu beratnya, sampai-sampai Sohib bisa menyelesaikan pendidikannya di STM atas bantuan beberapa saudara yang berbaik hati.
Dan kini, bertahun setelah kematian ayahnya, ketika Sohib sudah tinggal di Malang menjalankan usaha warung bubur dan mie milik temannya dari Sunda, Sohib hanya bisa berjanji untuk sebisa mungkin mencarikan biaya agar ibunya bisa naik haji. Dia akan membantu ibunya, entah bagaimanapun caranya, entah kapanpun akan terwujud cita-cita itu. Maka, wajarlah Sohib gemetar dua hari ini sejak ucapan ibunya di telepon pagi kemarin.
* * *
Sebenarnya, beban itu selalu Sohib rasakan tidak hanya ketika ibunya menyiratkan keinginan beliau untuk naik haji. Sohib tidak pernah tersenyum setiap kali dia mendapatkan bagian dari kerja kerasnya menjalankan usaha warung bubur dan mie itu. Dia tak pernah tersenyum ketika menyisihkan seribu atau dua ribu dari bagiannya itu untuk disimpan di salah satu sudut dompet yang paling rahasia, untuk kemudian ditukarkan jika jumlahnya sudah mencapai dua puluh ribu, dan kemudian dia simpan di sebuah amplop yang dia taruh dengan rapi di bawah tumpukan baju-bajunya. Dia selalu sadar, dialah satu-satunya anak lelaki di keluarganya, dialah yang paling bertanggung jawab untuk mengirimkan ibunya naik haji.
Terkadang, dia mempertanyakan nasib. Dia heran bagaimana seorang perempuan tua yang sepanjang hidupnya bercita-cita untuk naik haji seperti ibunya itu tidak mendapatkan kesempatan sekali pun naik haji. Sementara, Haji Mizwar, seorang tetangga yang rumahnya tak jauh dari warung Sohib, bisa pergi ke Mekkah hampir setiap tahun. Begitu kata orang. Haji Mizwar seringkali ditunjuk sebagai Amirul Hajj, jadi dia bisa naik haji tanpa mengeluarkan biaya.
Kalau dua hari ini dia merasa luar biasa terhantui kata-kata ibunya, itu gara-gara bulan Ramadhan. Dia tidak pernah menyalahkan Ramadhan. Sungguh, dia tidak pernah menyalahkannya. Dia malah berharap banyak darinya. Dia berharap banyak dari kemampuan Ramadhan membantu mengabulkan doa, mewujudkan cita-cita. Cuma saja, keadaanya serba tidak tepat. Temannya, yang dulu mengajak dia bekerja sama mendirikan dan menjalankan usaha warung bubur dan mie khas Sunda itu selalu pulang kampung setiap bulan Ramadhan hingga pertengahan Syawal. Temannya punya anak dan istri di Tasikmalaya. Bulan Ramadhan adalah bulan yang, baginya, tepat untuk pulang berlama-lama dengan keluarga. Sedangkan, menurut kesepakatan ketika mereka akan membuka warung bubur dan mie khas Sunda itu, Sohib harus bersedia menjaga gawang selama bulan Ramadhan.
Sohib harus mempersiapkan, menjaga warung dan melayani pembeli seorang diri. Jika pada hari-hari biasa warungnya buka 24 jam dengan jam jaga bergantian, kini di bulan Ramadhan warungnya buka mulai pukul 5 sore hingga 4 pagi. Dia menjaganya sendiri. Tapi, keuntungannya bisa dia nikmati hampir seluruhnya.
Sayangnya, ketika orang-orang enak-enaknya berbuka, Sohib harus menahan diri karena harus melayani pembeli. Bahkan, tak jarang dia baru sholat maghrib setelah jam enam lebih seperempat. Kemudian, ketika orang-orang menjalankan sholat tarawih, Sohib harus bertahan di warung berjaga-jaga jika sewaktu-waktu ada pembeli. Seingatnya, sejak mendirikan warung bubur dan mie khas Sunda ini, Sohib tidak pernah sekalipun menjalankan sholat tarawih berjamaah. Dia selalu menjalankannya sendiri, itu pun selalu dia lakukan dengan mencicil. Jika warung sedang sepi, dia segera sholat di bilik kecil di belakang warung, tepat di belakang kompor yang terus memanaskan bubur, terpisahkan triplek penuh tambalan. Karenanya dia selalu berkeringat setiap kali menjalankan sholat. Biasanya, paling lama dia bisa menjalankan empat rakaat sebelum akhirnya dia potong karena ada pembeli. Kemudian, jika ada waktu lagi, baru dia bisa sholat lagi. Namun, diantara sedikit rakaat tarawih yang bisa dia kerjakan, dia tak pernah melupakan satu doa yang selalu dia panjatkan pada sujud terakhir: doa untuk cita-cita ibunya.
Di dalam Ramadhan itu sendiri, ada satu bagian yang membuat dia lebih teriris-iris lagi, yaitu sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Semua orang tahu, sepuluh hari terakhir ini adalah gencar-gencarnya Gusti Allah mengabulkan doa hambanya. Sepuluh hari terakhir ini menjanjikan sebuah malam yang sangat mulia, malam yang menjamin terkabulnya doa salah satu diantara banyak hamba Allah. Sayangnya, keluh Sohib, harus untuk itu harus iktikaf di masjid, harus sholat malam.
Maka, terasa ada mengiris-iris ketika hampir setiap tengah malam pada bulan Ramadhan Haji Sobari mampir ke warungnya untuk membeli bubur kajang hijau dalam perjalanan beliau ke masjid untuk beriktikaf. Haji Sobari suka bersantai-santai dan berbicara ngalor-ngidul dengan Sohib. Sohib yang punya latar pendidikan agama tradisional di desa, lumayan bisa berbicara banyak dengan Haji Sobari. Bagaimanapun, seringkali Haji Sobari yang banyak berbicara. Terkadang, Haji Sobari bertahan di warung bubur dan mie sampai satu jam, sampai ada pembeli lagi. Sohib sampai berpikir bahwasanya Haji Sobari mampir di warungnya hanya untuk menemaninya melewatkan malam Ramadhan ketika tidak ada pembeli.
Malam ini Haji Sobari mampir seperti biasanya. Dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan seperti sekarang, bisa dipastikan Haji Sobari selalu mampir. Kebetulan sekali, Sohib sudah tidak bisa menahan keluh-kesahnya. Ketika Haji Sobar tengah menghabiskan bubur kacang hijaunya, Sohib memotong:
“Anda sungguh beruntung, Pak Haji.”
“Alhamdulillah, kalau Dik Sohib melihatnya begitu,” kata Haji Sobari. “Tapi, dalam hal apakah saya beruntung, Dik?”
“Begini,” kata Sohib. “Pak Haji ini sudah pensiun, sudah haji, anak-anak sudah mapan. Pokoknya, beban duniawi sudah selesai, Pak Haji.”
“Terus?”
“Sudah begitu, Pak Haji masih saja berkesempatan dan bersedia beriktikaf di masjid setiap malam,” kata Sohib. “Sungguh itu rahmat, Pak Haji.”
“Alhamdulillah.”
“Sementara saya,” kata Sohib sambil menyekakan kain lap pada gelas yang baru dia cuci. “Saya ini hidup masih begini, dosa bertumpuk-tumpuk, tidak pernah berkesempatan iktikaf lagi. Ah, jangankan iktikaf, sholat tarawih saja selalu sendiri.”
“Coba, apa penyebabnya?”
“Ya begini ini, Pak,” kata Sohib. “Saya harus bekerja.”
“Nah, kerja itu wajib, kan?” tanya Haji Sobari sambil tersenyum, tak butuh jawaban. “Tarawih itu sunnah, kan? Iktikaf itu sunnah, kan?”
“Ehmm . . . . Tapi, Pak,” kata Sohib. “Saya juga ingin mendapatkan yang sunnah, saya juga ingin mendapatkan lailatul qadar, saya juga ingin doa saya terkabul.”
Haji Sobari menoleh, benar-benar meninggalkan bubur kacang hijaunya. “Dik, kalau memang halangannya seperti itu, jangan kuatir. . . . Dik Sohib masih ingat, kan, kalau Gusti Allah tidak pernah tidur? Gusti Allah itu tahu keadaan kita semua. . . . Kita tinggal berdoa, dan Gusti Allah pasti tahu, pasti dengar.”
Sohib tak bisa menahan senyum ketika mendengar ucapan terakhir dari Haji Sobari. Dia tak tahu kenapa dia tersenyum. Yang jelas, setelah itu, ucapan Haji Sobari terasa begitu menghanyutkannya. Sampai-sampai, seorang lelaki memasuki warungnya. Seperti biasa, ketika ada seorang pembeli datang, Haji Sobari segera mengakhiri perbincangannya dan segera menuju masjid. Haji Sobari mengeluarkan dua lembar ribuan dari kopyahnya dan memberikannya kepada Sohib. Sebelum Sohib sempat mengambil kembalian, Haji Sobari bertanya kepada Sohib:
“Sebenarnya, doa Dik Sohib yang paling ingin dikabulkan itu apa sih? Jodoh?”
“Ah, Pak Haji, bukan,” kata Sohib. “Saya ingin ibu saya bisa naik haji.”
“Oh, begitu,” kata Haji Sobari. “Gusti Allah selalu mengabulkan doa hambanya, tinggal tunggu waktunya. Saya bantu berdoa kalau ingat. Semoga ibu Dik Sohib bisa naik haji.”
“Aamiin,” jawab Sohib. Ternyata, lelaki yang baru masuk itu juga ikut mengamini doanya.
Lalu, Haji Sobari meninggalkan warung Sohib. Dan baru kemudian Sohib sadar bahwa dia belum memberi kembalian Haji Sobari. Memang, Haji Sobari tidak pernah mau menerima kembalian dari Sohib.
Kini Sohib melayani lelaki yang baru masuk itu. Baru kali ini Sohib melihat lelaki itu. Memang, terkadang ada saja pembeli yang mampir ke warungnya karena kebetulan lewat atau sedang menunggu mikrolet yang pada malam hari hanya lewat satu atau dua kali dalam sejam. Lelaki itu tetap berdiri di depan mejanya, dia tidak langsung duduk seperti lazimnya pembeli lain.
“Makannya apa, Pak?” tanya Sohib.
“Mmm, tidak, Mas,” katanya. “Saya hanya mau menitipkan ini.” Dia menyodorkan sebuah dompet kulit warna coklat.
“Lho?” Sohib kaget. “Dompet siapa, pak?”
“Saya juga tidak tahu, Mas,” katanya. “Saya tadi cuma lewat di depan dan tiba-tiba saja ada lihat dompet itu. Mungkin punya orang sekitar sini, Mas.”
Sohib menerimanya dan meminta izin untuk membuka isinya. Tidak ada selembar pun uang di sana. Yang ada hanya sejumlah kartu nama, kertas-kertas tak jelas gunanya, sebuah KTP dan sebuah STNK sepeda motor. Sohib membaca KTP itu: ternyata dompet itu milik Haji Mizwar yang tinggal beberapa rumah di sebelah kanan warung Sohib. Dia mengatakan kepada lelaki itu tentang pemilik dompet itu. Begitu Sohib selesai mengatakannya si lelaki segera meninggalkan warung Sohib.
Tak lama setelah kepergian lelaki itu, Sohib baru menyadari suatu kemungkinan: mungkin saja di dompet itu sudah tidak ada lagi uang karena lelaki tadi sudah mengambilnya. Tapi, pikirnya, kalau dia sudah mengambilnya, mengapa juga dia repot-repot menyerahkan dompet itu agar si pemilik bisa mendapatkannya kembali. Sohib segera keluar warungnya, siapa tahu dia masih bisa menanyai lebih banyak tentang dompet itu. Begitu sampai di ambang pintu, Sohib melihat ke arah perginya lelaki itu. Jalanan sepi, aspal tersepuh keemasan nyala bohlam di kanan kiri jalan. Malam begitu damai. Tak ada deru kendaraan. Tak ada hembusan angin. Sementara, di langit, bintang samar-samar terlihat. Di sini, bintang selalu tampak samar-samar, berbeda dengan desanya di Kediri sana, bintang selalu tampak cemerlang.
Sudahlah, pikir Sohib, mungkin lelaki itu memang menemukan dompet ini dalam keadaan tanpa uang. Sohib segera masuk warungnya lagi. . . .
* * *
Keesokan sorenya, Sohib ke rumah Haji Mizwar untuk mengantarkan dompet yang dia dapatkan dari lelaki pada tengah malam itu. Haji Mizwar senang sekali bisa mendapatkan dompetnya itu. Dari keterangan beliau, diketahui bahwa ternyata dompet itu memang tidak berisi uang. Ketika dompet itu hilang, Haji Mizwar kalang kabut karena di dompet itu terdapat STNK sepeda motor yang sebenarnya ingin dia juga sehari sebelumnya. Haji Mizwar sangat berterima kasih kepada Sohib atas kesediaannya mengembalikan dompet itu—padahal, dia hanya mendapatkan dompet itu dari seseorang yang kebetulan lewat warungnya pada malam hari itu.
Karena cerita tentang penemuan dompet pada tengah malam itu, Haji Mizwar berjanji akan mampir di warung Sohib kapan-kapan jika sedang sulit tidur. Dalam basa-basi perbincangan itu, Haji Mizwar sempat menanyakan asal Sohib.
“Saya dari Kediri, Pak,” jawab Sohib.
“Oh, Kediri,” kata Haji Mizwar manggut-manggut, dia seperti mencoba mengingat-ingat sesuatu. “Kediri mana, Mas?”
“Kecamatan Bogo, Pak,” jawab Sohib lemah.
“Bogo!” seru Haji Mizwar. “Saya punya seorang kenalan di sana. Namanya Bu Sulami.”
“Bu Sulami?” seru Sohib. “Persis dengan nama ibu saya, Pak.”
“Bu Sulami,” kata Haji Mizwar, “suami Almarhum Pak Karyan.”
“Ooh . . . . itu bapak-ibu saya, Pak,” kata Sohib. “Kebetulan sekali . . . . Kenal dimana, Pak?”
“Kenal di Mekkah, waktu naik haji tahun . . . ,” kata Haji Mizwar.
“Oh, itu bukan orang tua saya,” kata Sohib. “Orang tua saya belum berhaji, Pak.” Sohib langsung ingat tentang cerita orang bahwa Haji Mizwar nyaris setiap tahun menunaikan ibadah haji, tanpa mengeluarkan biaya, karena dia menjadi Amirul Hajj.
“Iya. . . ,” kata Haji Mizwar. “Saya sendiri jadi lupa tahun berapa saya kenal beliau berdua. Saya kenal mareka karena saya membantu Pak Karyan pulang ke maktab dari Masjidil Haram karena tiba-tiba beliau sakit. Sayangnya, beberapa hari setelah jatuh sakit yang tiba-tiba itu, Pak Karyan meninggal.”
Setelah itu, mereka berbasa-basi lebih banyak lagi. Haji Mizwar menawarkan mengajak Sohib berbuka puasa di rumahnya, karena saat berbuka sudah tidak lama lagi. Namun, karena tugas memanggilnya untuk mulai membuka warung dan menunggu warung selama jam-jam buka puasa, maka dia menolaknya dengan wajar.
Sebelum Sohib pulang, Haji Mizwar berkata kepada Sohib:
“Oh ya, kalau pulang kampung, tolong mampir ke keluarga Bu Hajjah Sulami ya?”
“Mmhh. . .”
“Sebentar,” kata Haji Mizwar. Dia segera mengambil sejumlah album foto di bawah mejanya. Dia membuka-buka album itu sambil menggumam sendiri. “Ah! Ini dia.” Haji Mizwar telah menemukan sebuah foto dan menunjukkannya kepada Sohib. “Ini Bu Hajjah Sulami dan suami, berfoto dengan saya dan istri saya.”
Sohib terperangah dan mengucap, “Masya Allah,” begitu melihat foto tersebut: suasana rumah sakit, tampak seorang perempuan yang dia kenal sebagai istri Haji Mizwar berdiri agak di depan, di tempat tidur terlihat seorang lelaki yang tampak lemah, itu bapak Sohib, dan duduk di sebuah kursi di tepi ranjang, tampak seorang perempuan dengan senyum yang dipaksakan, itu ibu Sohib. . . .
1 Comment »
RSS feed for comments on this post. TrackBack URI
Leave a comment
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.
sungguh, bakti seorang anak terhadap orang tua, sampai-sampai rela banting tulang untuk mewujudkan cita2 orang tuanya utk pergi haji.
Comment by kuspratiknyo — September 1, 2009 #